Sebagai lelaki yang tumbuh di kampung, istilah feminisme terasa seperti barang impor. Di lingkunganku, kata itu sering dikaitkan dengan hal-hal negatif: merusak moral, melawan laki-laki, atau bahkan menentang agama. Aku sendiri dulu ikut-ikutan meragukannya. Bagaimana tidak, semua orang di sekitarku memandang feminisme sebagai musuh budaya. Namun, semua berubah saat aku diajak terlibat dalam diskusi tentang pencegahan sunat perempuan oleh sebuah yayasan. Dari situlah aku mulai memahami bahwa feminisme bukan tentang membenci laki-laki, melainkan tentang membuka mata terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan.
Memaknai Feminisme dengan Cara Baru
Feminisme, ternyata, bukan ideologi yang rumit. Ia adalah cara berpikir yang membantuku mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap wajar. Mengapa perempuan selalu harus menjaga kehormatan keluarga? Mengapa tubuh mereka diatur sejak lahir? Pertanyaan-pertanyaan ini mengantarkanku pada realitas pahit tentang sunat perempuan.
Di kampungku, sunat perempuan sering dianggap sebagai tradisi yang harus dijalankan. Banyak yang melakukannya dengan niat baik, menganggapnya sebagai kewajiban agama atau cara menyempurnakan anak perempuan. Namun, ketika aku melihat lebih dalam, aku mulai bertanya-tanya: mengapa bayi perempuan harus ditandai tubuhnya sebelum ia bisa memahami apa pun? Mengapa beban moral diletakkan di pundaknya sejak dini?
Tradisi yang Perlu Dipertanyakan
Sunat perempuan sering dibungkus dengan alasan kebersihan, kesalehan, atau kehormatan. Tapi, mengapa sunat laki-laki tidak pernah dikaitkan dengan hal-hal tersebut? Mengapa tubuh perempuan selalu dianggap perlu dikendalikan? Aku ingat seorang kiai feminis, Husein Muhammad, pernah bilang bahwa sunat perempuan adalah tradisi yang diskriminatif, terutama karena tidak ada perintah agama yang jelas mewajibkannya.
Kritik terhadap tradisi bukan berarti membenci budaya. Justru, budaya yang sehat adalah budaya yang berani memeriksa dirinya sendiri. Jika kita terus mempertahankan praktik yang melukai hanya karena sudah turun-temurun, kita tidak sedang melestarikan budaya, melainkan melanggengkan ketidakadilan.
Pertanyaan yang Sering Dihindari
Saat aku mulai berbicara tentang hal ini, banyak yang bertanya, "Bagaimana dengan agama?" Pertanyaan ini sering menghentikan diskusi sebelum dimulai. Orang yang kritis langsung dicap feminis yang anti-agama. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah praktik ini benar-benar baik untuk anak perempuan? Apakah ini membawa kebaikan atau justru menyakiti?
Feminisme, seperti kacamata baca, membantuku melihat hal-hal yang selama ini tersembunyi. Dengan kacamata itu, aku menyadari bahwa sunat perempuan bukan hanya soal adat istiadat, tapi juga soal kontrol terhadap seksualitas perempuan. Ini bukan isu sepele. Ini soal hak asasi manusia.
Tubuh Perempuan adalah Milik Mereka Sendiri
Aku terperangah ketika menyadari bahwa ibu, saudara perempuan, keponakan, dan kelak anak perempuanku mungkin mengalami hal ini. Seburuk itukah mereka, sampai tubuhnya harus dikendalikan sejak bayi? Padahal, tubuh perempuan bukan milik negara, adat, atau masyarakat. Tubuh mereka adalah milik mereka sendiri.
Kita sering meminta perempuan menjaga kehormatan keluarga, tapi jarang bertanya mengapa permintaan itu harus dipenuhi dengan menyunat tubuhnya. Kita perlu berhenti dan berpikir ulang. Apakah kita benar-benar memuliakan perempuan, atau justru merendahkan mereka?
Cinta Budaya dengan Cara yang Lebih Dewasa
Aku tidak mengajak orang kampung untuk meninggalkan budaya. Sebaliknya, aku ingin mengajak kita mencintai budaya dengan cara yang lebih dewasa. Kampung adalah tempat persemaian nilai dan kearifan. Namun, kita harus berani mempertanyakan praktik-praktik yang tidak lagi relevan atau bahkan merugikan. Dengan begitu, kita bisa menjaga budaya tanpa harus mengorbankan hak-hak perempuan.
Perjalanan pemahamanku tentang feminisme mungkin dimulai dari keraguan, tapi kini aku yakin: feminisme adalah alat untuk menciptakan keadilan. Dan keadilan itu harus dimulai dari rumah kita sendiri, dari cara kita memperlakukan anak-anak perempuan kita.